Rabu, 13 April 2016

Esai KKN Kebangsaan 2016 di Kepulauan Riau

Esai ini diajukan untuk mengikuti seleksi KKN Kebangsaan 2016 di UMRAH Kepualauan Riau, banyak kisah dibalik perjuangan seleksi ini. Mulai dari info dari kampus yang tertutup sampai kami harus berjuang sendiri mencari informasi dari teman beda jurusan, fakultas bahkan Universitas. Belum ada kabar pengumuman hasil seleksi ini namu  apresiasi tinggi kepada Kak Shariyani S.IP yang sudah menyempatkan melihat dan memperbaiki esai ini ditengah kesibukan pekerjaannya sekarang, serta semangat selalu bagi teman-teman yang sama-sama mengheboh dan berjuang untuk KKN Kebangsaan ini; Rizka Afira Ningrum Pratama (Co. HUMAS IICR), Muhammad Abrar (Menteri Kesehatan BEM UR yang baru saja menang Mawapres PSIK), Deldiya (SekmenPP BEM UR yang setia nemenin bolak-balik puskom,fakultas dan LPPM UR) juga pada seluruh ASKAR BEM Universitas Riau yang telah berpartisipasi turut mengadvokasikan masalah tertutupnya info ini sampai akhirnya diberikan lagi kelonggaran waktu hingga 15 April 2015, apapun itu hasilnya tidak ada salahnya jika telah mencoba... semoga kita berempat lulus seleksinya..Amiiiiinnn....

Jika kelak tidak lulus, semoga tulisan ini mampu membantu pembaca atau pemerintah nantinya untuk memikirkan kembali Nasib Pulau Lain Di Sekitar Funtasy Island, Kepri. Selamat Membaca 

Strategi Pengembangan Ekowisata Bagi Pulau Disekitar Funtasy Island Kepulauan Riau

Oleh:

TITIK KAROMA (1301110110)

Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik


Funtasy Island merupakan taman rekreasi bertema alam (Eco-theme park) yang digadang-gadang akan menjadi tempat wisata terbesar di dunia. Funtasy Island terletak di Kecamatan Belakang Padang yang merupakan salah satu kecamatan hinterland di Kota Batam Kepulauan Riau. Letaknya persis di sebelah Pulau Belakang Padang yang juga merupakan pusat administrasi Kecamatan Belakang Padang dan pada awal kemerdekaan pernah menjadi pusat pemerintahan Kota Batam. Funtasy Island sebenarnya adalah perubahan nama dari Pulau Manis. Perubahan ini terjadi karena pulau manis dilirik oleh Funtasy Island Development (FID), yakni investor asing dari Singapura yang kemudian bekerja sama dengan PT Batam Island Marina untuk menjadikan Pulau Manis sebagi tempat wisata, dan kini namanya telah berubah menjadi Funtasy Island.
 
Jarak antara Batam dan Singapura tidak terlalu jauh yakni 20 km/jam atau lebih kurang selama 30 menit perjalanan dengan menggunakam Fery dari Pelabuhan Terminal internasional Sekupang Batam. Funtasy Island merupakan salah satu Pulau dari ratusan Pulau yang ada di Kecamatan Belakang Padang. Berdasarkan Kecamatan Belakang Padang Dalam Angka Tahun 2014, sebanyak 108 Pulau yang ada di satu Kecamatan Belakang Padang. Diantaranya 43 pulau ialah pulau yang berpenghuni, sedangkan sisanya sebanyak 65 pulau merupakan pulau tidak berpenghuni. Letak yang strategis yang berhadapan langsung dengan Singapura, dan pasir yang putih menjadi alasan utama kenapa Pulau Manis dilirik oleh investor.
 
Proyek pengerjaan Funtasy Island menjadi daerah wisata terbesar akan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2016. Dalam perencanaannya akan dibangun ratusan villa di darat dan dilaut, hotel, pantai yang indah, dan wahana bermain yang akan menarik para wisatawan untuk berkunjung. Konsep pembangunan Funtasy Island lebih menekankan pada pelestrian lingkungan, tergambar dari akan ditanamnya 4.000 pohon bakau, penangkaran lumba-lumba, dan pelestarian terumbu karang. Keadaan seperti ini benar-benar menjadikan funtasy island sebagai contoh ekowisata bahari yang patut ditiru.
 
Disisi lain ada hal yang cukup menjadi perhatian. Target kemajuan funtasy island ternyata tidak terlalu berdampak pada kemajuan pulau disekitarnya, salah satu contohnya Pulau Belakang Padang. Sejak tahun 2012 proyek funtasy island dimulai, dan berjalan sampai sekarang. Banyak masyarakat yang angkat bicara memberikan gambaran tentang proses pembangunan tersebut. Salah satunya berpendapat, bahwa funtasy island yang ditargetkan akan menjadi tempat wisata terbesar di dunia hanya akan bermanfaat bagi para investor. Sebab kabar yang didapatkan bahwa, kedepan jika ingin datang ke funtasy island harus melewati pelabuhan di Singapura dan transaksi keuangan kabarnya akan menggunakan dolar Singapura.
 
Keadaan ini ternyata cukup dikhawatirkan oleh beberapa warga asli Belakang Padang. Maka dari itu agar kemajuan funtasy island dapat berdampak besar bagi pulau disekitarnya maka harus dibuat strategi pengembangan ekowisata bahari baru dari Pemerintah Kota Batam. Strategi yang dimaksud adalah, Pemerintah Kota Batam membuat kebijakan alur transportasi untuk sampai ke Funtasy Island. Yaitu dari Pelabuhan Batam ke Pelabuhan Belakang Padang dengan jarak tempuh selama 10-15 menit, kemudian berjalan menggunakan becak tradisional yang ada di Belakang Padang menuju Sekanak, yakni tempat yang berbatas langsung dengan Funtasy Island. Lalu dibuat Pelabuhan penyebrangan yang akan menghubungkan Belakang Padang dengan Funtasy Island yang jarak tempuhnya selama 5-8 menit.
 
Menurut jurnal dari Universitas Diponegoro oleh Femy Nadia Rahma, Herniwati Retno Handayani. Secara umum hasil dari penelitian tersebut menyebutkan bahwa sektor pariwisata berpengaruh positif meningkatkan pendapatan daerah, karena sifatnya sebagai Quick Yielding Industry (cepat menghasilkan). Sehingga sangat tepat sekali srategi pengembangan ekowisata tersebut akan mampu menciptakan kemanfaatan lebih bagi ekonomi masyarakat dan juga ekowisata baru di Belakang Padang yang juga akan memberikan dampak baik bagi Pemerintah Kota Batam. Hadirnya para wisatawan ke Funtasy Island dengan melewati Belakang Padang dapat memicu masyarakat membuat ekowisata baru, misalnya wisata kuliner melayu khas Belakang Padang, atau hidupnya lagi pusat permainan gasing di Sekanak yang sempat mencuat dan terkenal, atau menghidupkan lagi pantai-pantai Belakang Padang yang saat ini sudah tidak ramai pengunjung. Akhirnya jika kemajuan Ekowisata di Funtasy Island berdampak luas bagi masyarakat, maka dengan sendirinya masyarakat akan terlibat sepenuhnya menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).